Lompat ke isi utama

Berita

4 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Untuk Mengawal Demokrasi Pasca Pemilu.

Hak Politik Kalian Apa Berhenti Setelah Pemilu?

Hak Politik Kalian Apa Berhenti Setelah Pemilu?

Banyak yang merasa tugasnya selesai setelah keluar dari TPS dan jari kelingking berwarna ungu. Padahal, suara yang kita berikan adalah mandat, bukan "cek kosong". Demokrasi yang sehat butuh pengawasan 24/7, bukan cuma 5 tahun sekali.

1. Menagih & Memantau Implementasi Janji Politik

Jangan biarkan visi-misi hanya menjadi dokumen penghias perpustakaan.

Janji politik adalah kontrak sosial antara calon dan pemilih. Pasca-pemilu, tugas kita adalah melakukan "audit" berkala. Jika mereka menjanjikan pendidikan gratis atau perbaikan infrastruktur, pantau apakah anggaran yang disusun benar-benar dialokasikan ke sana.

Simpan dokumen visi-misi (PDF), bandingkan dengan pidato tahunan atau laporan capaian kinerja pemerintah. Suarakan jika ada janji yang mulai "terlupakan". Tujuannya agar para pemimpin menyadari bahwa rakyat memiliki ingatan yang kuat dan tidak bisa dikelabui oleh retorika musiman.

2. Mengawal Proses Pembentukan Kebijakan Publik

Suaramu tidak boleh hanya terdengar di bilik suara, tapi juga di ruang sidang.

Setelah terpilih, mereka akan membuat aturan (Undang-Undang atau Perda). Seringkali, aturan dibuat tanpa melibatkan perspektif rakyat terdampak. Kita punya hak untuk memberikan pendapat melalui mekanisme Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) atau uji publik.

Pantau akun media sosial lembaga legislatif (DPR/DPRD), pelajari naskah akademik rancangan aturan, dan gunakan media sosial untuk memberikan kritik jika aturan tersebut berpotensi merugikan masyarakat.

3. Aktif dalam Perencanaan Pembangunan (Musrenbang)

Politik yang paling nyata adalah politik di tingkat lokal.

Anggaran negara (APBN/APBD) berasal dari pajak yang kita bayar. Melalui Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan), kita bisa menentukan apakah anggaran tahun depan dipakai untuk membangun jembatan yang rusak di desa kita atau justru untuk hal yang tidak mendesak.

Hadiri pertemuan di tingkat desa atau kelurahan. Jangan absen dalam diskusi warga. Pastikan usulan warga masuk ke dalam skala prioritas pembangunan daerah.

4. Bergabung dengan Komunitas atau NGO


Satu suara itu penting, tapi ribuan suara itu kekuatan yang tak bisa diabaikan.

Individu mungkin mudah diabaikan oleh penguasa, tapi gerakan kolektif akan selalu diperhitungkan. Bergabung dengan komunitas, serikat buruh, organisasi mahasiswa, atau LSM (NGO) membuat kita memiliki akses informasi yang lebih luas dan daya tawar politik yang lebih kuat.

Jadilah bagian dari gerakan yang fokus pada isu yang kamu pedulikan (misalnya lingkungan, hak perempuan, atau perlindungan konsumen). Konsolidasi adalah kunci agar rakyat tidak mudah "dipecah belah" setelah pemilu usai.

Oleh : Awatar Wisya Fatwa