Membangun Budaya Kerja Positif di Lingkungan Kerja Berbasis Kesadaran Diri (Pendekatan Law of Attraction)
|
Fenomena kesejahteraan emosional di kantor semakin menjadi sorotan seiring meningkatnya tekanan kerja dan tuntutan profesional yang tinggi. Emosi negatif seperti marah, sedih, tegang, dan frustrasi kerap muncul di lingkungan kerja dan secara perlahan menggerus semangat serta produktivitas karyawan. Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi individu yang mengalaminya, tetapi juga menciptakan atmosfer kerja yang tidak sehat secara kolektif. Ketegangan emosional yang dibiarkan tanpa penanganan dapat menurunkan performa, memicu konflik antar rekan kerja, hingga berdampak pada tingginya tingkat stres. Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk mulai memperhatikan dan mengelola kesejahteraan emosional karyawan sebagai bagian dari strategi menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, inklusif, dan produktif.
Metode yang paling menarik untuk merawat kesejahteraan di tempat kerja justru terletak pada pemberiaan ruang bagi individu untuk mentreatment dirinya sendiri secara mandiri. Pendekatan ini menekankan pada kesadaran diri bahwa setiap emosi yang hadir dalam diri mampu menarik situasi dan kondisi serupa di lingkungan sekitar. Emosi yang belum terselesaikan cenderung mengendap dan membentuk pola berulang di realitas luar kita.
Sebelum tiba di kantor, seseorang mungkin mengalami pertengkaran kecil di jalan dengan pengendara lain. Emosi marah yang muncul dari kejadian itu sering kali terbawa hingga ke tempat kerja, tanpa disadari memengaruhi interaksi sepanjang hari. Akibatnya, ia menjadi lebih mudah tersinggung, menanggapi ucapan rekan kerja dengan perasaan negatif, atau bahkan menarik reaksi serupa dari orang lain—seperti atasan yang tiba-tiba memarahinya tanpa alasan yang jelas.
Situasi ini menunjukkan bahwa emosi yang belum terselesaikan dapat memengaruhi energi di sekitar kita dan menciptakan resonansi negatif di lingkungan kerja. Oleh karena itu, kemampuan untuk mengenali, menerima, dan melepaskan emosi secara sadar menjadi langkah penting untuk memutus siklus tersebut dan membangun suasana kerja yang lebih positif dan harmonis.
Bayangkan jika setiap individu di kantor memiliki kesadaran penuh untuk melepaskan emosi-emosi rendah seperti marah, kecewa, atau kesal sebelum memasuki ruang kerja, maka individu itu secara otomatis akan menciptakan suasana kantor yang lebih harmonis dan menenangkan sesuai dengan kondisi batin yang ia pancarkan. Karena semesta ibarat sebuah cermin!
Tidak ada lagi energi tegang yang menular, tidak ada percakapan pasif-agresif yang menekan, dan tidak ada pula reaksi berlebihan yang memicu konflik tak perlu. Sebaliknya, yang muncul adalah ruang kerja yang penuh kesejukan, komunikasi mengalir dengan empati, kerja sama terjalin dengan tulus, dan produktivitas tumbuh dari rasa nyaman. Maka penting untuk membangun pola relasi kerja yang sehat berbasis kesadaran individu (Law of Attraction)
MEMAHAMI HUKUM LAW OF ATTRACTION .
Law of Attraction (Hukum Tarik Menarik) membuka kesadaran bahwa segala sesuatu yang terjadi di luar diri kita sejatinya merupakan pantulan langsung dari kondisi batin yang ada di dalam. Apa yang kita rasakan, pikirkan, dan vibrasikan secara internal akan memancarkan frekuensi tertentu yang pada akhirnya menarik situasi, orang, dan pengalaman yang sefrekuensi dengan energi tersebut. Ketika kita memelihara emosi-emosi rendah seperti kemarahan, ketakutan, atau kekecewaan dalam diri, tanpa disadari kita sedang memancarkan sinyal yang menarik kejadian-kejadian serupa ke dalam kehidupan kita (Looping), baik dalam bentuk konflik, kesalahpahaman, tekanan dari atasan, maupun ketegangan relasi dengan rekan kerja.
Hal-hal negatif yang tampak “datang dari luar” sebenarnya adalah cermin dari getaran emosional yang kita pancarkan dari dalam. Sebaliknya, ketika batin kita jernih, tenang, dan penuh rasa syukur, dunia luar pun merespons dengan situasi yang lebih menyenangkan, penuh peluang, dan relasi yang lebih harmonis. Kesadaran ini menuntun kita untuk tidak lagi menyalahkan lingkungan, melainkan mengajak kita untuk berjalan ke dalam, membersihkan batin, memperbaiki pola pikir, dan memancarkan energi yang lebih positif dan menjadi kunci untuk menciptakan realitas eksternal yang lebih baik.
Ketika kita belum mampu melepaskan emosi rendah yang melekat di dalam diri. Seperti marah, kecewa, atau sedih tanpa sadar kita sedang masuk ke dalam sebuah looping, yaitu pola berulang dari situasi yang sama. Hukum tarik menarik bekerja layaknya magnet yang terus memanggil kembali pengalaman serupa, sebagai refleksi dari emosi yang belum selesai. Emosi yang tertahan akan menciptakan resonansi, menarik orang, kejadian, bahkan konflik yang mirip, lagi dan lagi.
Kita mungkin pernah bertanya-tanya, “Kenapa hal ini terus terjadi?” atau “Mengapa situasinya seperti terulang lagi?”
Sebenarnya, semesta sedang menunjukkan bahwa ada emosi dalam diri yang belum benar-benar kita lepaskan. Selama emosi itu belum disadari dan diterima sepenuhnya, situasi serupa akan terus berulang—seolah hidup membawa kita kembali ke pelajaran yang sama. Siklus ini baru akan terputus ketika kita benar-benar menyadari, menerima, dan melepaskan emosi tersebut dari dalam diri. Saat itulah hidup mulai bergerak ke arah yang lebih ringan, lebih jernih, dan lebih selaras. Memutus siklus bukan berarti menghindar, melainkan berani hadir sepenuhnya—menyadari pola yang terbentuk, lalu dengan sadar memilih untuk tidak lagi membiarkan emosi rendah mengendalikan realitas kita.
IMPLEMENTASI PENDEKATAN LOW OF ATTRACTION DI LINGKUNGAN KANTOR
Pendekatan Law of Attraction di lingkungan kantor merupakan cara pandang yang menekankan bahwa energi, pikiran, dan emosi yang kita pancarkan secara pribadi akan mempengaruhi suasana kerja secara keseluruhan. Dalam konteks ini, setiap individu dipandang sebagai pusat energi yang aktif menarik pengalaman sesuai dengan kondisi batinnya. Ketika seorang karyawan memelihara pikiran positif, rasa syukur, dan ketenangan batin maka cenderung menarik pengalaman kerja yang mendukung: relasi yang harmonis, atasan yang suportif, serta situasi kerja yang kondusif. Sebaliknya, emosi rendah seperti kecemasan, kemarahan, atau ketidakpuasan yang terus dipelihara justru menarik situasi kerja yang penuh tekanan, konflik, atau kesalahpahaman. Oleh karena itu, pendekatan Law of Attraction di kantor bukan sekedar soal berpikir positif, tetapi tentang kesadaran untuk menjaga kualitas energi batin, karena apa yang terjadi di luar, termasuk dinamika kantor adalah cerminan dari apa yang kita bawa dari dalam. Jika ingin menciptakan suasana kerja yang lebih harmonis dan produktif, perubahan itu dimulai dari dalam diri masing-masing.
Dengan memakai hukum law off attraction di lingkungan kantor kita akan memahami setiap orang yang datang ke kehidupan kita tidak secara acak, mereka ingin menyampaikan bahwa kedatangan mereka adalah pantulan dari energi yang kita pancarkan. Jika seseorang membuatmu marah di lingkungan kantor, ia hanya sedang menunjukkan bagian dari emosi dirimu yang belum kamu selesaikan. Jika seseorang membuatmu kagum, ia sedang mencerminkan potensi dirimu yang belum kamu sadari. Semuanya adalah tentang bagaimana kamu melihat dirimu melalui mereka. Lagi-lagi, realitas di luar diri kita hanyalah cerminan dari kondisi di dalam. Ketika kamu merasa ada seseorang yang marah, bersikap kasar, atau membuatmu gelisah, cobalah sesekali bertanya ke dalam diri—bukan, “Kenapa dia begitu?” melainkan, “Apa yang sedang diperlihatkan tentang diriku melalui dirinya?”
Membangun pola relasi yang harmonis di lingkungan kantor sejatinya tidak selalu harus dimulai dari kebijakan organisasi atau pelatihan formal yang berskala besar. Ada cara yang lebih efisien dan efektif, yaitu dengan membangun pola relasi tersebut melalui kesadaran berbasis individu. Ketika setiap orang mulai menyadari bahwa kualitas relasi eksternal merupakan cerminan dari kondisi internal, maka proses perubahan pun dimulai dari dalam diri masing-masing. Kesadaran ini tumbuh saat individu mulai bercermin .
Lantas apakah kita tidak boleh marah, kecewa, tegang di kantor ? Emosi rendah seperti kecewa, sedih, marah, dan takut bukanlah sesuatu yang tidak boleh hadir di kantor, justru keberadaannya pantas dan manusiawi. Kita bukan mesin yang bisa beroperasi tanpa pengaruh emosi. Kita adalah manusia yang memiliki dinamika batin yang wajar berubah-ubah, termasuk di lingkungan kerja. Namun, yang penting bukan soal boleh atau tidaknya emosi rendah hadir, melainkan bagaimana kita menyadari, menerima, dan mengelola emosi tersebut dengan bijak. Menekan atau menyangkal emosi justru berbahaya, karena bisa membuatnya mengendap dan muncul dalam bentuk lain yang lebih merusak.
Lingkungan kantor yang sehat bukanlah tempat di mana semua orang harus terlihat “baik-baik saja” setiap waktu, melainkan tempat di mana setiap individu dapat hadir dengan kejujuran emosional, namun tetap bertanggung jawab atas cara mereka mengekspresikan dan mengelola emosi tersebut. Sedih boleh hadir, asalkan tidak memutus semangat kerja. Marah boleh muncul, asalkan tidak melukai orang lain. Takut boleh ada, asalkan tidak membuat kita berhenti mencoba.
Justru dengan mengakui kehadiran emosi rendah, kita bisa membangun empati, meningkatkan komunikasi, dan menciptakan budaya kerja yang lebih autentik dan manusiawi. Jadi, bukan soal menolak emosi rendah tapi bagaimana kita mengolahnya menjadi kekuatan dengan introspeksi ke dalam.
Penulis: Agus Sudirman, S.E., M.E (Kordiv SDMO Diklat)
Editor: Tia