Membangun Budaya Kerja Berbasis Kesejahteraan Emosional di Lingkungan Kerja Bawaslu Kota Balikpapan
|
Lingkungan kerja yang sehat bukan hanya ditentukan oleh fisik ruangan kerja atau kelengkapan sarana dan fasilitas, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kesejahteraan emosional para pegawainya. Dalam era kerja modern yang serba cepat dan penuh tekanan, kesejahteraan emosional menjadi faktor penting dalam menciptakan produktivitas jangka panjang, loyalitas karyawan, dan dinamika kerja yang positif.
Agus Sudirman, S.E.,M.E. (Kordiv SDMO Diklat Bawaslu Kota Balikpapan) dalam hal ini menganggap kesejahteraan emosional adalah bagian dari strategi manajemen sumber daya manusia. Karena ketika pegawai mengalami stres berkepanjangan, tekanan mental, ataupun perasaan tidak dihargai maka produktivitas dan performa mereka akan menurun drastis bisa mempengaruhi produktivitas organisasi.
Ada beberapa hal yang melatar belakangi kegiatan peningkatan kapasitas ini di laksanakan, diantaranya adalah :
Perbedaan intensitas kerja antara masa tahapan dan non-tahapan pemilu
Kesejahteraan emosional pegawai perlu menjadi perhatian serius di lingkungan Bawaslu Balikpapan, terutama karena adanya lonjakan beban kerja yang sangat signifikan antara masa non-tahapan dan tahapan penyelenggaraan pemilu. Pada masa tahapan, beban kerja pegawai meningkat drastis, bahkan sering kali melebihi jam kerja normal. Banyak pegawai harus pulang larut malam, menginap di kantor, atau melakukan pengawasan hingga malam hari. Intensitas kerja yang tinggi ini berlangsung dalam durasi yang panjang dan menuntut konsentrasi serta kesiapan fisik dan mental yang baik. Sebaliknya, pada masa non-tahapan, ritme kerja cenderung lebih stabil dan teratur. Pegawai dapat pulang sesuai jam kerja kantor pada umumnya, karena kegiatan yang dilakukan tidak bersinggungan langsung dengan intensitas pengawasan tahapan penyelenggaraan. Fokus kerja lebih diarahkan pada penguatan kapasitas struktur dan kelembagaan, pelayanan informasi publik, pengerjaan administrasi, penataan arsip, pengawasan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan, kegiatan sosialisasi dan pendidikan politik masyarakat. Perbedaan intensitas kerja yang cukup tajam antara dua periode tersebut berpotensi menimbulkan shock emotional bagi pegawai ketika memasuki masa tahapan. Tanpa pengelolaan emosional yang tepat, transisi ini dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental, motivasi kerja, dan kualitas pengambilan keputusan di lingkungan kerja.
Keberagaman latar belakang dan kebutuhan personal pegawai
Kesejahteraan emosional di lingkungan kantor merupakan aspek yang tidak bisa diabaikan dalam menciptakan tempat kerja yang sehat dan produktif. Hal ini menjadi semakin penting ketika melihat realitas bahwa setiap pegawai memiliki latar belakang dan kebutuhan personal yang berbeda-beda. Di antara para pegawai, ada yang berperan sebagai orang tua tunggal (single parent) yang harus mencukupi kebutuhan anak di rumah. Ada pula yang merupakan perantau, tinggal jauh dari keluarga dan kampung halaman, sehingga mengalami keterbatasan dukungan sosial secara langsung. Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan finansial sering kali menjadi prioritas utama, sementara kebutuhan emosional cenderung terabaikan. Ketika aspek emosional ini tidak dikelola dengan baik, maka secara perlahan dapat memengaruhi stabilitas mental pegawai. Akibatnya, pegawai menjadi lebih mudah merasa stres, kehilangan motivasi, serta mengalami kelelahan psikologis yang berdampak pada penurunan kinerja dan kualitas hubungan antarpegawai. Organisasi yang baik adalah organisasi yang tidak hanya memperhatikan kesejahteraan fisik dan finansial pegawainya, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap kesejahteraan emosional mereka. Dengan pengelolaan yang menyeluruh terhadap kedua aspek tersebut, lingkungan kerja akan tumbuh menjadi ruang yang sehat, baik secara fisik maupun psikologis.
Dinamika transisi kepemimpinan dan dampaknya terhadap kesejahteraan emosional pegawai di Bawaslu Kota Balikpapan
Di Bawaslu Balikpapan, struktur kepemimpinan bersifat periodik, di mana komisioner menjabat selama satu periode selama lima tahun. Artinya, setiap lima tahun sekali, terjadi transisi kepemimpinan yang membawa perubahan dalam arah kebijakan, pola komunikasi, dan gaya kepemimpinan di lingkungan kerja. Transisi ini bukanlah proses yang sederhana. Bagi pegawai organik yang berada dalam struktur kelembagaan secara berkelanjutan, perubahan pimpinan berarti harus mengatur ulang kembali kondisi emosional dan psikologis mereka. Hubungan kerja yang sebelumnya telah dibangun secara emosional, berdasarkan kepercayaan dan kedekatan dengan pimpinan sebelumnya, dianggap harus di-reset untuk menyesuaikan dengan karakter dan gaya kepemimpinan yang baru. Hal ini dapat menimbulkan ketidakpastian emosional dan beban penyesuaian mental, terutama karena setiap pemimpin membawa visi, ekspektasi, serta pendekatan yang berbeda terhadap pegawai dan pekerjaan. Memahami dan mengelola dampak emosional dari perubahan pimpinan bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga merupakan bagian dari tanggung jawab kelembagaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat, adaptif, dan manusiawi. Dengan pendekatan yang tepat, masa transisi tidak lagi menjadi sumber gangguan, tetapi justru menjadi momentum penguatan solidaritas dan semangat baru dalam menjalankan tugas pengawasan demokrasi yang berkelanjutan.
Peningkatan Kapasitas dengan judul “Membangun Budaya Kerja Positif Berbasis Kesejahteraan Emosional di Lingkungan Kerja Bawaslu Balikpapan”
Kegiatan Peningkatan Kapasitas dengan judul “Membangun Budaya Kerja Positif Berbasis Kesejahteraan Emosional di lingkungan kerja Bawaslu Kota Balikpapan”, diselenggarakan sebagai upaya untuk merespons sejumlah fenomena yang memengaruhi stabilitas emosional pegawai di lingkungan kerja diantaranya transisi kepemimpinan, kebutuhan personal pegawai dengan latar belakang yang berbeda – beda dan perbedaan intensitas kerja yang tajam di masa Nontahapan ke masa tahapan penyelenggaraan.
Sebagai narasumber dalam kegiatan ini, Bawaslu Kota Balikpapan menghadirkan Bapak Imam Arrywibowo, S.E., M.Si ; Seorang akademisi, peneliti, dan praktisi di bidang Sumber Daya Manusia. Beliau memiliki konsentrasi dalam penelitian terkait kesejahteraan emosional manusia, mengajar mata kuliah yang berfokus pada perilaku individu dan organisasi serta menjadi narasumber dalam forum HRD maupun Perilaku Konsumen .
Kehadiran beliau diharapkan dapat memperkuat pemahaman peserta terhadap dinamika perilaku manusia di lingkungan kerja Bawaslu Kota Balikpapan, serta menawarkan pendekatan berbasis keilmuan dan praktik dalam mengelola kesejahteraan emosional di lingkungan kerja. Selain itu, diskusi bersama beliau akan menggali strategi nyata yang bisa diimplementasikan oleh individu maupun organisasi dalam membangun budaya kerja yang sehat secara psikologis.
Beberapa kesimpulan dan rekomendasi dari diskusi ini diantaranya :
Menyusun perencanaan kerja tahunan yang mempertimbangkan masa tahapan dan non-tahapan secara proporsional, termasuk skema penguatan kapasitas pada masa non-tahapan untuk persiapan menghadapi tahapan berikutnya
Membuat dokumen panduan atau protokol transisi kepemimpinan yang tidak hanya mengatur serah terima tugas, tetapi juga aspek komunikasi dan adaptasi emosional pegawai.
Menjaga budaya kerja dan nilai-nilai organisasi agar tidak bergantung pada figur pimpinan tertentu, sehingga mengurangi gejolak emosional saat terjadi pergantian kepemimpinan.
Menyediakan layanan konsultasi sebagai sarana berbagi pengalaman dan mencegah isolasi emosional di tempat kerja.
Menyesuaikan beban kerja secara tim agar tidak terpusat pada individu tertentu, sehingga mencegah kelelahan emosional yang berkepanjangan.
Penguatan kesejahteraan emosional bukan hanya upaya pelengkap, melainkan menjadi elemen penting dalam membentuk lingkungan kerja yang sehat, berdaya tahan, dan produktif. Melalui implementasi rekomendasi ini, Bawaslu Kota Balikpapan diharapkan mampu menciptakan ekosistem kerja yang mendukung keseimbangan antara tuntutan kelembagaan dan kebutuhan personal pegawai menuju lembaga pengawasan pemilu yang tangguh secara profesional dan emosional.
Melalui kegiatan yang diselenggarakan Dalam Jaringan (Daring) ini, Bawaslu Kota Balikpapan berupaya untuk menemukan strategi terapan kelembagaan dan individual yang membantu pegawai mengelola keseimbangan antara beban kerja dan kebutuhan personal, baik dari sisi emosional maupun finansial sehingga tercipta keseimbangan hidup dan kerja (work-life balance) yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Penulis: Agus Sudirman, S.E., M.E (Kordiv SDMO-Diklat Bawaslu Kota Balikpapan)
Editor: Tia