Lompat ke isi utama

Berita

Dari Amorim Kita Belajar..

Dari Amorim kita bisa belajar..

Ex-Pelatih Manchester United, Ruben Amorim.

Dari Amorim kita bisa belajar.. 

Memilih Instan daripada Menghargai Proses

MU hobi ganti nahkoda karena nggak sabar sama proses. Maunya hasil instan, tapi malah makin tenggelam. Mirip kayak kita kalau milih pemimpin lewat jalan pintas 'politik uang'.

  • Membangun sistem itu butuh waktu dan kesabaran, seperti Amorim yang butuh waktu buat adaptasi taktik.
  • Tapi banyak dari kita yang nggak sabar, akhirnya milih 'jalan pintas' dengan menerima uang sogokan 100 ribu, padahal itu justru menghancurkan sistem pembangunan untuk 5 tahun ke depan.

Jangan mau nasib negara kita kayak MU; gonta-ganti pemimpin tapi nggak ada kemajuan karena kita (pemilihnya) cuma mau 'senang instan' tapi sengsara jangka panjang. Pilih yang mau membangun sistem, bukan yang cuma kasih uang bensin!"

Tentang "Harapan vs Kenyataan"

Kita semua tahu Amorim itu punya niat baik dan cara kerja yang bener. Tapi di MU, orang bener pun bisa 'dibuang' kalau kalah sama kepentingan manajemen. 

Elisabeth Noelle-Neumann dalam The Spiral of Silence secara eksplisit menyampaikan bahwa ketika (fenomena) politik uang dianggap sebagai "hal lumrah" atau "rezeki", orang-orang jujur yang ingin menolak akan merasa terisolasi dan akhirnya ikut diam. Sama halnya dengan demokrasi. Kita mungkin punya calon pemimpin yang jujur, cerdas, dan punya niat tulus membangun bangsa. 

Jika pengawasan partisipatif pemilu kita lemah, jika kita selalu memilih karena politik uang, maka "Amorim-Amorim" di politik kita akan rontok satu per satu. Jangan biarkan orang baik kalah hanya karena sistem yang kita biarkan rusak tanpa kita peduli dan ikut mengawasi.

Punya Prinsip, Jangan Mau Dibeli

Amorim milih pergi daripada harus mengorbankan prinsipnya. Dia tahu harga diri lebih mahal dari sekadar jabatan di klub besar.

Jangan tukar masa depanmu cuma buat uang 100-200 ribu. Amorim aja berani jaga integritas, masa kita mau jual suara kita ke orang yang nantinya bakal 'mecat' kesejahteraan kita sendiri?

Jika Amorim saja berani menjaga prinsipnya meski kehilangan jabatan mewah, masa kita tidak berani menjaga suara kita dari godaan politik uang yang menghancurkan masa depan selama lima tahun?

Kita Bukan Fans MU, Nasib Negara Ini Ada di Tangan Kita Sendiri

Amorim mungkin tidak punya kuasa melawan keputusan pemecatannya, tapi KAMU punya kuasa untuk memilih pemimpin yang kamu percaya melalui bilik suara. 

Dalam konsep People Sovereignty (Kedaulatan Rakyat) dari Jean-Jacques Rousseau menegaskan bahwa mandat pemimpin hanyalah pinjaman dari rakyat. Jika pemimpin gagal atau sistemnya curang, rakyat memiliki hak moral untuk menuntut keadilan.

Jadilah pemilih yang berdaulat. Jangan mau disetir oleh opini palsu atau intimidasi. Kawal suaramu, awasi jalannya demokrasi, dan pastikan orang yang benar-benar berkualitaslah yang menang, bukan dia yang paling jago memanipulasi keadaan.

Jangan sampai kita nyesel kayak fans MU. Mumpung suaramu masih di tanganmu, gunakan buat pilih yang beneran kerja, bukan yang cuma jago pencitraan apalagi yang menggunakan politik uang.

Penulis : Awatar Wisya Fatwa