Lompat ke isi utama

Berita

Menenun Damai di Paroki St. Klement: Langkah Awal Bawaslu Balikpapan Merawat Demokrasi Sejak Dini

Ketua Bawaslu Balikpapan, Wasanti berdiskusi dengan pastur Felix Sumargono.

Ketua Bawaslu Balikpapan, Wasanti berdiskusi dengan pastur Felix Sumargono.

BALIKPAPAN, 16 APRIL 2026 - Di tengah jeda tahapan pemilu yang tenang, Bawaslu Kota Balikpapan memilih untuk tidak berpangku tangan. Menyadari bahwa kualitas demokrasi tidak ditentukan saat surat suara dicoblos, melainkan dari kedalaman akar literasi politik masyarakatnya, jajaran Bawaslu melangkahkan kaki menuju Gereja Katolik Paroki St. Klement.

Kunjungan ini bukan sekadar agenda formal birokrasi. Ada semangat "Kulonuwun" yang dibawa—sebuah tradisi santun untuk mengetuk pintu, menyambung rasa, dan membangun silaturahmi dengan umat Katolik di Balikpapan. Kedatangan tim Bawaslu pun disambut dengan tangan terbuka dan senyum hangat oleh Pastur Felix Sumargono.

Dalam suasana audiensi yang hangat, Bawaslu menyampaikan pesan penting: demokrasi adalah proses yang berkelanjutan. Penguatan nilai-nilai pengawasan tidak boleh bersifat musiman. Justru di masa non-tahapan inilah, konsolidasi dilakukan agar masyarakat siap menghadapi badai informasi dan potensi perpecahan di masa depan.

"Demokrasi tidak dimulai hanya ketika pemilu berjalan. Penguatan fondasi demokrasi harus dilakukan sejak dini dan berkelanjutan," ungkap Wasanti, Bawaslu Balikpapan.

Selain membangun silaturahmi, kesempatan ini dimanfaatkan Bawaslu sebagai ajang berbagi informasi mengenai regulasi pemilu yang krusial. Salah satu poin penting yang ditekankan adalah menjaga kesucian tempat ibadah dari aktivitas politik praktis.

Bawaslu mengingatkan kembali mengenai larangan kampanye di tempat ibadah serta larangan pemasangan Alat Peraga Kampanye (APK) atau Alat Peraga Sosialisasi (APS) di lingkungan gereja. Hal ini bertujuan agar rumah ibadah tetap menjadi ruang netral yang menyatukan seluruh elemen masyarakat tanpa sekat pilihan politik.

Wasanti mengharapkan  peran gereja sebagai mitra strategis dalam menjaga kedamaian. Di tengah ancaman isu SARA yang sering kali menjadi komoditas politik, Gereja Paroki St. Klement diharapkan menjadi oase yang menyejukkan. Dialog ini memetakan bagaimana gereja dapat membantu Bawaslu memberikan pemahaman kepada umat agar tidak terjebak dalam polarisasi yang merusak kerukunan beragama.

"Pintu kami selalu terbuka untuk hal-hal yang berkaitan dengan kebaikan bersama (bonum commune). Gereja bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat menyemai nilai-nilai kejujuran dan persaudaraan. Kami siap bersinergi dengan Bawaslu untuk memastikan umat tidak mudah terprovokasi isu SARA dan tetap mengedepankan kasih dalam berdemokrasi," ungkap Pastur Felix Sumargono di sela-sela diskusi.

Pertemuan ini menjadi embrio bagi kerja sama yang lebih konkret. Ke depan, komitmen ini direncanakan akan dituangkan dalam bentuk Nota Kesepahaman (MOU).

Bawaslu menyatakan kesiapannya untuk terjun langsung ke tengah umat maupun ke sekolah-sekolah Katolik di bawah naungan paroki. Tujuannya jelas: menjadi pemateri atau pembicara yang membekali para siswa dan jemaat dengan wawasan pengawasan partisipatif. Dengan begitu, setiap individu tidak hanya menjadi pemilih, tetapi juga penjaga integritas pemilu di lingkungannya masing-masing.

Melalui audiensi ini, Bawaslu Balikpapan dan Paroki St. Klement mengirimkan pesan kuat kepada publik bahwa perbedaan pilihan adalah keniscayaan, namun persaudaraan dan keutuhan bangsa adalah harga mati yang harus dijaga bersama sejak sekarang.

 

Foto dan Penulis : Awatar Wisya Fatwa

Editor : Humas Bawaslu Kota Balikpapan